Postingan

Yayasan Indonesia Mengajar Kirim Sarjana

Gambar
Terinspirasi gerakan pengiriman sarjana untuk mengajar di daerah-daerah terpencil sekitar tahun 1950, Yayasan Indonesia Mengajar mengirimkan sarjana-sarjana pandai untuk mengajar sekolah dasar di berbagai daerah terpencil di Indonesia. Gerakan ini diharapkan membuka akses pendidikan pada masyarakat terpencil dan berekonomi lemah. Tahun 2010 ini, sebanyak 50 orang pengajar muda telah dikirimkan ke lima kabupaten, yaitu Bengkalis di Riau, Tulang Bawang di Lampung, Passer di Kalimantan Timur, Majene di Sulawesi Barat, dan Halmahera di Maluku Utara. "Para pengajar muda ini bertugas selama setahun saja," tidak lebih dari itu, kata Pendiri Yayasan Indonesia Mengajar yang juga Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dalam diskusi publik yang diselenggarakan Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Equilibrium Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (4/6/10). Kualifikasi perekrutan pengajar muda dibuat cukup tinggi, yaitu sarjana b...

Siapa Sudi Mengajar di Daerah Terpencil?

Gambar
Sampai saat ini masih banyak daerah terpencil di Indonesia yang kekurangan pengajar. Sebagian besar guru enggan dikirim ke daerah-daerah terpencil karena kesejahteraan guru yang dinilai belum memadai. Program mengajar di daerah terpencil yang diluncurkan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar diminati para lulusan sarjana (S-1). Program ini menawarkan kegiatan mengajar sebagai media pengembangan diri dan memperkaya pengalaman. Sebanyak 1.383 lulusan S-1 tercatat mendaftarkan diri dalam perekrutan perdana Gerakan Indonesia Mengajar pada 2010 lalu. Jumlah ini melebihi target semula, yaitu sekitar 500 sarjana. Dari semua pelamar, hanya 51 orang yang diambil. "Dengan persaingan tinggi, mereka yang dikirim ini adalah mahasiswa-mahasiswa berprestasi pada masa kuliahnya," kata Ketua Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, saat perekrutan Gerakan Indonesia Mengajar di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa (11/1/2011). Para sarjan...

Ketika Musim "Membolos" Tiba..

Gambar
. Agung Firmansyah (kiri), guru peserta program Indonesia Mengajar, mengajar Matematika dengan bantuan kartu remi, Kamis (20/1/2011), di SD No. 27 Tatibajo, Majene, Sulawesi Barat. Guru peserta IM didorong untuk memperkenalkan cara mengajar kreatif di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan di daerah terpencil. Seorang bocah (kanan) belajar menggambar di sebuah bukit Beroangin, Malunda, Majene, Salasa (18/1/2011). Pak Guru Jamaluddin menatap langit yang mendung dengan wajah cemas. Ketika hujan mulai merintik, dia masuk ke kelas VI dan berkata, ”Anak-anak yang rumahnya di dalam (hutan) lekas pulang.” Desi (12) yang sedang asyik belajar Matematika dengan alat peraga kartu remi segera mengemasi buku. Sejurus kemudian, dia dan lima murid lainnya dari kelas berbeda setengah berlari pulang menuju dusunnya, Tatibajo, yang berada di tengah hutan. Setiap hujan, hampir semua orang di Sekolah Dasar 27 Tatibajo di Dusun Manyamba, Kabupaten Majene, Sulawes...

Cerita tentang Mimpi Mengabdi Negeri...

Gambar
Para calon guru berdiskusi dalam berbagai kesempatan. ”Izinkan anak-anak SD di pelosok itu mencintai, meraih inspirasi, dan berbinar menyaksikan kehadiranmu. Dan yang terpenting, Anda sebagai anak terbaik telah ikut—sekecil apa pun—mendorong kemajuan, mengubah masa depan mereka menjadi lebih cerah....” Itu adalah sepenggal isi e-mail dari Anies Baswedan yang merupakan kata-kata perpisahannya mengantar keberangkatan 51 pengajar muda ”Indonesia Mengajar” menuju dusun-dusun di pelosok Indonesia, awal Desember lalu. Dalam suratnya yang menyentuh itu, Anies menyebutkan bahwa mereka adalah anak-anak usia muda yang meninggalkan kenyamanan hidup. Ke-51 pengajar muda itu (Baca: Mereka yang Dibutuhkan Negeri Ini) merupakan orang-orang muda terpilih, bahkan mungkin yang terbaik di generasinya. Banyak di antara mereka yang telah hidup mapan dengan gaji yang sangat memadai. Tetapi mereka kemudian banting setir, untuk sebuah mimpi bersama: ingin mengabdi kep...