PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM K.H. AHMAD DAHLAN
I. PENDAHULUAN
What se do in
life….enchoes in eternity…Setiap peristiwa di jagad raya ini adalah
potongan mozaik. Terserak di sana-sini, tersebar dalam rentang waktu dan
ruang-ruang. Namun perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti
MontaseAnton Gaudi. Kita sebagai generasi pendidik, mozaik-mozaik itu akan
membangun siapa diri kita, lalu apa yang akan kita kerjakan dalam dunia kita
sebagai bagian dari mozaik dunia pendidikan kita. (Andrea Hirata, Sang
Pemimpi) Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan kau hidup dari
Muhammadiyah (Buya Ahmad Dahlan) Sampai sekarang permasalahan pendidikan
masih sangat hangat dibicarakan oleh para ilmuwan Muslim di seantero dunia
(mis. pada konferensi pendidikan)[1] dengan mencoba menginventarisis pendidikan
untuk diberikan solusi. Pada masa kolonialisme, pola pendidikan yang dualistis
masih terjadi di Indonesia yaitu adanya system pendidikan colonial dan system
pendidikan Islam (pesantren). Pendidikan colonial sangat berbeda dengan
pendidikan Islam “tradisional”. Perbedaan itu, bukan hanya dari segi metode,
tetapi lebih khusus lagi dari segi isi dan tujuan pendidikan. Pada awalnya
tempat-tempat pendidikan yang didirikan oleh pemerintahan colonial Belanda
khusus bagi anak-anak Belanda dan anak orang asing lainnya atau bagi anak
pribumi yang berasal dari tokoh terkemuka seperti orang kraton (priyayi) dan
pejabat desa. Lembaga pendidikan yang dikhususkan bagi anak-anak tertentu itu
dinamakan Europeesche Lagere School.[2] Namun sejak adanya politik etika
colonial Belanda berdiri berbagai macam sekolah, maka mulai dari Inlandsche
Lagere School yang disebut sekolah rendah. Hogere Burger School (HBS),
Meer Vitgebreit Lagere Onderwijs (MULO) sebagai sekolah menengah
pertama. Sampai Algemeene Midle Bare School (AMS) sebagai sekolah
lanjutan atas.[3] Sesuai dengan landasan politik yang
dijalankan pemerintah Belanda, maka tujuan sekolah-sekolah yang didirikan
pemerintah Belanda juga mencerminkan arah politiknya, yakni sekedar untuk
memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang agak terdidik.[4] Di sisi lain, pendidikan yang dikelola oleh
pemerintah colonial, berorientasikan pada pengetahuan dan ketrampilan duniawi.
Corak pendidikan tersebut sesuai dengan strategi politik pemerintah colonial
Belanda yang ingin netral terhadap agama.[5] Secara umum, fenomena di atas menunjukkan
bahwa keadaan social-ekonomi-kultural dan politik saat itu benar-benar
merupakan tantangan bagi sejumlah tokoh pada saat itu yang harus dijawab dengan
ide dan tindakan. Selanjutnya setting social di atas menunjukkan fenomena bahwa
umat Islam dihadapkan pada maslah dikotomi pendidikan, yaitu pengaruh
kebudayaan Barat dan kemunduran intelektural di pihak lain. Sadar akan tantangan
yang demikian, di beberapa kawasan Nusantara tampil para tokoh dan pemikir
membawa seperngkat pemikir, baik dalam bentuk tulisan maupun melalui karya
nyata sebagai jawaban terhadap tantangan yang mereka hadapi. Mereka itulah yang
disebut dengan kaum pembaharu yang kehadiran dan kebangkitan mereka bertujuan
tidak hanya untuk menentang pengaruh Barat dari segi social dan cultural,
tetapi juga untuk menghimbau mereka untuk kembali kepada dasar-dasar pokok
Islam melalui jalur pendidikan sebagai central kegiatan politiknya.[6] Di antara tokoh pembaharu, diantaranya
muncul di Kauman Yogyakarta yaitu K. H. Ahmad Dahlan (1868-1923) dengan
pemikirannya mengenai pendidikan Islam dan organisasi Muhammadiyahnya yang
didirikan pada tahun 1921 M. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai
Biografi K.H. Ahmad Dahlan, Pemikiran beliau mengenai Pendidikan Islam, beliau
sebagai pembaharu dan hubungannya dengan Muhammadiyah.
- PEMBAHASAN
- Riwayat Hidup Singkat Ahmad Dahlan
Seperti yang kita ketahui bahwa
penulisan riwayat hidup K.H. Ahmad Dahlan telah banyak dilakukan oleh para
sarjana.[7] K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman Yogyakarta
pada tahun 2008 . Nama kecilnya adalah Muhammad Darwisy dan merupakan anak
keempat dari K.H. Abu Bakar (seorang ulama dan khatib terkemuka di Mesjid Besar
Kesultanan Yogyakarta) dan ibunya merupakan putrid dari H. Ibrahim yang
menjabat sebagai penghlu kesultanan juga.[8] Ia merupakan anak keempat dari tujuh ornag
bersudara yang keseluruhan saudaranya perempuan kecuali adik bungsunya. Dalam
silsilah ia termasuk keturunan yang keduabelas dari maulana malik Ibrahim,
seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang
merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di tanah Jawa.
Ia dikenal jujur dan sederhana dan inilah yang membuatnya disukai orang. Untuk
mempelajari ilmu-ilmu agama ia berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya.
Ia mempunya sikap kritis terhadap pola pendidikan tradisional, tetapi tidak
punya kekuatan untuk mengubahnya. Dalam keadaan seperti ini Ia beruntung memproleh
kesempatan melanjutkan pendidikannya ke Mekah pada tahun 1890.[9] Di sinilah Ia berinteraksi dengan
pemikir-pemikir pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afgani,
Rasyid RIdha, dan Ibnu Taimiyah. Pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunya
pengaruh yang besar padanya. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh
aliran pembaharuan ini sehingga kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan
yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui
pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian dunia Islma saat itu yang masih
bersifat ortodoks. Melalui kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, telah
membuka wawasan beliau tentang universalitas Islam. Ide-ide tentang
reenterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah
mendapat perhatian khususnya saat itu. Ia juga merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib
(1899-1916), tokoh kelahiran Indonsea yang saat itu menempati posisi tertinggi
dalam penguasaannya atas ilmu-ilmu agama di Mekkah.[10] Dalam pendidikan keagamaan formalnya
sebagian besar waktu K.H. Ahmad Dahlan tampaknya dihabiskan untuk mempelajari
ajaran Islam tradisionalis, karena itu perkenalannya dengan gagasan-gagasan
modernisme Islam kemungkinan terjadi lewat bacaan pribadi dan hubungannya
dengan kaum moerdenis Muslim lain. Sekembalinya dari Mekkah tahun 1905[11] ia menikah dengan Siti Walidah, anak
perempuan seorang hakim di Yogyakarta yang kelak dikena dengan Nyai Ahmad
Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Karena gajinya sebagai
khatib tidak mencukupi untuk memenuhi keperluannnya sehari-hari, ia berdagang
batik. Ini membawanya ke hampir seua daerah di Jawa dan memberinya kesempatan
untk menyampaikan gagasan-gagasannya kepada kaum Muslim yang menonjol di daerah
masing-masing. Mereka inilah yang belakangan menjadi bagian inti gerakan
Muhammadiyah dan pengikutnya yang bersemangat.[12] K.H. Ahmad Dahlan juga bergabung dengan
organisasi Jam’iyatul Khair[13], Budi Utomo[14], anggota teras Sarekat Islam. hingga
akhirnya di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 lahirlah Muhammadiyah
sebagai gerakan umat Islam. dan sejak awal K.H. Ahmad Dahlan menetapkan bahwa
Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat social dan bergerak di
bidang pendidikan. Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan
ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari
masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang
bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi
agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa
Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang
hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan
sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan
Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Namun, pada saat
Muhammadiyah teratur dan kuat, K.H. Ahmad Dahlan berpulang ke rahmatullah pada
tanggal 23 Februari 1923 dalam usia 55 tahun. Dan sekarang kita dapat
menyaksikan Muhammadiyah menjadi semakin maju dan berkembang di seluruh
nusantara dengan berbagai amal usahanya tidak terlepas dari usaha beliau yang
sangat luar biasa.
- Pemikiran Pendidikan Islam Ahmad Dahlan
Buya merasa tidak puas dengan system
dan praktik pendidikan saat itu, dibuktikan dengan pandangannya mengenai tujuan
pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang baik budi, luas pandangan, dan
bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat.[15] Karena itu buya merentaskan beberapa
pandangannya mengenai pendidikan dalam bentuk pendidikan model Muhammadiyah
khususnya, antara lain:
- Pendidikan Integralistik
K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah
tipe man of action sehingga sudah pada tempatnya apabila mewariskan
cukup banyak amal usaha bukan tulisan. Oleh sebab itu untuk menelusuri
bagaimana orientasi filosofis pendidikan Beliau musti lebih banyak merujuk pada
bagaimana beliau membangun sistem pendidikan. Namun naskah pidato terakhir
beliau yang berjudul Tali Pengikat Hidup menarik untuk dicermati karena
menunjukkan secara eksplisit konsen Beliau terhadap pencerahan akal suci
melalui filsafat dan logika. Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang
menggambarkan tingginya minat Beliau dalam pencerahan akal, yaitu: (1)
pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat
dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan
istiqomah terhadap kebenaran akali dengan di dasari hati yang suci; (2) akal
adalah kebutuhan dasar hidup manusia; (3) ilmu mantiq atau logika adalah
pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika
manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt. Pribadi K.H. Ahmad Dahlan
adalah pencari kebenaran hakiki yang menangkap apa yang tersirat dalam tafsir
Al-Manaar sehingga meskipun tidak punya latar belakang pendidikan Barat tapi ia
membuka lebar-lebar gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam sendiri,
menyerukan ijtihad dan menolak taqlid. Dia dapat dikatakan sebagai suatu
“model” dari bangkitnya sebuah generasi yang merupakan “titik pusat” dari suatu
pergerakan yang bangkit untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi
golongan Islam yang berupa ketertinggalan dalam sistem pendidikan dan kejumudan
paham agama Islam. Berbeda dengan tokoh-tokoh nasional pada zamannya yang lebih
menaruh perhatian pada persoalan politik dan ekonomi, K.H. Ahmad Dahlan
mengabdikan diri sepenuhnya dalam bidang pendidikan. Titik bidik pada dunia
pendidikan pada gilirannya mengantarkannya memasuki jantung persoalan umat yang
sebenarnya. Seiring dengan bergulirnya politik etis atau politik asosiasi
(sejak tahun 1901), ekspansi sekolah Belanda diproyeksikan sebagai pola baru
penjajahan yang dalam jangka panjang diharapkan dapat menggeser lembaga
pendidikan Islam semacam pondok pesantren. Pendidikan di Indonesia pada saat
itu terpecah menjadi dua: pendidikan sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, yang
tak mengenal ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama; dan pendidikan di
pesantren yang hanya mengajar ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama saja.
Dihadapkan pada dualisme sistem (filsafat) pendidikan ini K.H. Ahmad
Dahlan “gelisah”, bekerja keras sekuat tenaga untuk mengintegrasikan,
atau paling tidak mendekatkan kedua sistem pendidikan itu. Cita-cita pendidikan
yang digagas Beliau adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil
sebagai “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”, yaitu seorang muslim yang
memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani. Dalam
rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan
melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran agama di
sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di
mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu
sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan
yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun,
ide Beliau tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim
ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan
integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai
dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan
perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan. Dalam rangka menjamin
kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka atas saran murid-muridnya Beliau
akhirnya mendirikan persyarikatan Muhammadiyah tahun 1912. Metode pembelajaran
yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan bercorak kontekstual melalui proses
penyadaran. Contoh klasik adalah ketika Beliau menjelaskan surat al-Ma’un
kepada santri-santrinya secara berulang-ulang sampai santri itu menyadari bahwa
surat itu menganjurkan supaya kita memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan
harus mengamalkan isinya. Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu
baru diganti surat berikutnya. Ada semangat yang musti dikembangkan oleh
pendidik Muhammadiyah, yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan ala
al-Ma’un sebagaimana dipraktekan K.H. Ahmad Dahlan . Anehnya, yang diwarisi
oleh warga Muhammadiyah adalah teknik pendidikannya, bukan cita-cita
pendidikan, sehingga tidak aneh apabila ada yang tidak mau menerima inovasi
pendidikan. Inovasi pendidikan dianggap sebagai bid’ah. Sebenarnya, yang harus
kita tangkap dari K.H. Ahmad Dahlan adalah semangat untuk melakukan
perombakan atau etos pembaruan, bukan bentuk atau hasil ijtihadnya. Menangkap
api tajdid, bukan arangnya. Dalam konteks pencarian pendidikan integralistik
yang mampu memproduksi ulama-intelek-profesional, gagasan Abdul Mukti Ali
menarik disimak. Menurutnya, sistem pendidikan dan pengajaran agama Islam di
Indonesia ini yang paling baik adalah sistem pendidikan yang mengikuti sistem
pondok pesantren karena di dalamnya diresapi dengan suasana keagamaan,
sedangkan sistem pengajaran mengikuti sistem madrasah/sekolah, jelasnya
madrasah/sekolah dalam pondok pesantren adalah bentuk sistem pengajaran dan
pendidikan agama Islam yang terbaik. Dalam semangat yang sama, belakangan
ini sekolah-sekolah Islam tengah berpacu menuju peningkatan mutu pendidikan.
Salah satu model pendidikan terbaru adalah full day school, sekolah sampai sore
hari, tidak terkecuali di lingkungan Muhammadiyah.
- Mengadopsi Substansi dan Metodologi Pendidikan Modern
Belanda dalam Madrasah-madrasah Pendidikan Agama
Yaitu mengambil beberapa komponen
pendidikan yang dipakai oleh lembaga pendidikan Belanda. Dari ide ini, K.H.
Ahmad Dahlan dapat menyerap dan kemudian dengan gagasan dan prektek
pendidikannya dapat menerapkan metode pendidikan yang dianggap baru saat itu ke
dalam sekolah yang didirikannya dan madrasah-madrasah tradisional. Metode yang
ditawarkan adalah sintesis antara metode pendidikan modern Barat dengan
tradisional. Dari sini tampak bahwa lembaga pendidikan yang didirikan K.H.
Ahmad Dahlan berbeda dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat
pribumi saat ini. Sebagai contoh, K.H. Ahmad Dahlan mula-mula mendirikan SR di
Kauman dan daerah lainnya di sekitar Yogyakarta, lalu sekolah menengah yang
diberi nama al-Qism al-Arqa yang kelak menjadi bibit madrasah Mu’allimin
dan Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta. Sebagai catatan, tujuan umum lembaga
pendidikan di atas baru disadari sesudah 24 tahun Muhammadiyah berdiri, tapi Amir
Hamzah menyimpulkan bahwa tujuan umum pendidikan Muhammadiyah menurut K.H.
Ahmad Dahlan adalah:[16]
- Baik budi, alim dalam agama
- Luas pandangan, alim dalam ilmu-ilmu dunia (umum)
- Bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya
Mungkin ada benarnya jika dikaitkan
dengan latar belakang timbulnya pemikiran pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan
yang antara lain disebabkan oleh rasa tidak puas terhadap system pendidikan
yang ada dan hanya mengembangkan salah satu bidang pengetahuan dari kedua
pengetahuan yang ingin dirangkul oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya.
Ijtihad pemikiran pendidikan yang dicetuskan K.H. Ahmad Dahlan melalui gagaan
dan praktek pendidikan Islamnya merupakan cikal bakal dan dijadkan estafet
dalam pembaharuan system pendidikan Muhammadiyah, sebagai contoh “pondok
Muhammadiyah”. Ada empat pokok model pembaharuan pendidikan di Pondok
Muhammadiyah antara lain:[17]
|
No.
|
Sistem Pendidikan Lama
|
Pondok Muhammadiyah
|
|
1. 2. 3. 4.
|
System belajar mengajar Weton dan
Sorogan. Bahan pelajaran semata-mata agama, kitab-kitab karangan ulama
pembaharuan tidak dipergunakan. Belum ada RP yang teratur dan integral.
Hubungan guru dan murid lebih bersifat otoriter dan kurang demokratis.
|
Sistem klasikal dengan cara-cara
Barat. Bahan pelajaran tetap, ditambah ilmu pengetahuan umum. Kitab-kitab
agama dipergunakan secara luas, baik klasik maupun kontemporer.[18] Sudah diatur dengan RP. Diusahakan suasana
hubungan guru dan murid lebih akrab bebas dan demokratis.
|
Dalam pendidikan di pondok
Muhammadiyah mata pelajaran agama dan alat untuk mempelajari agama sebagai mata
pelajaran pokok. Program pendidikan pondok Muhammadiyah berbeda dengan sekolah
Muhammadiyah. Pondok Muhammadiyah menekankan hal keagamaan . sementara sekolah
kelas I dan II yang dikelola Muhammadiyah, pendidikan agama hanya sebagai mata
pelajaran suatu bidang studi yaitu mata pelajaran Agama Islam. mata pelajaran
ini disampaikan pada suatu kelas tertentu dnegna waktu yang ditetapkan. Sekolah
Muhammadiyah pada awal abad ke-20 sudah menerapkan system ulangan, absensi
murid dan kenaikan kelas. Sementara itu, ujian idpakai sebagai pengukur
kecakapan murid. Pendidikan Muhammadiyah juga ditunjang dengan beberapa
kegiatan di luar jam pelajaran dan guru dihormati secara wajar. K.H. Ahmad
Dahlan telah membawa pembaharuan pendidikan waktu itu melalui Muhammadiyah baik
dengan memasukkan mata pelajaran agama di sekolah-sekolah umum dan menyerap
ilmu-ilmu yang datang dari Barat, serta memasukkan kitab-kitab ulama baru ke
dalam kurikulumnya. Semuanya itu mengundang munculnya berbagai kecaman terhadap
beliau. Ada yang menuduh sebagai murtad, kreisten, penganut paham mu’tazilah,
kharijiah, dsb. Bahkan sampai tahun 1933 disebutkan bahwa sekolah Muhammadiyah
sebagai sekolah kebelanda-belandaan atau kebarat-baratan. Namun Muhammadiyah
tetap bisa bertahan dan hingga saat ini mewajikan pembelajaran pengetahuan
keIslaman yang disebut al-Islam dan keMuhammadiyahan, dengan mengajarkan
Islam versi Majlis Tarjih. Muhammadiyah selalu terbuka dan terus berkembang,
termasuk dalam hal keputusan Tarjih. Hal ini karena dalam penentuan sebuah
keputusan Tarjih diambil dengan cara mencari yang paling kuat dasarnya, bahkan
bisa terjadi tidak sejalan dengan praktik yang dilakukan pendirinya, K.H. Ahmad
Dahlan.[19]
- Memberi Muatan Pengajaran Islam pada Sekolah-sekolah
Umum Modern Belanda
Muhammadiyah baru memutuskan meminta
kepada pemerintah agar memberi izin bagi orang Islam untuk mengajarkan agama
Islam di sekolah-sekolah Goebernemen pada bulan April 1922. sebenarnya sebelum
Muhammadiyah didirikan ini sudah diusahakan namun baru mendapat izin saat itu.
Hingga akhirnya Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah swasta yang meniru
sekolah Gubernemen dengan pelajaran agama di dalamnya.[20] Tujuan pokok organisasi dan pendirian
lembaga pendidikan menjadi orientasi utama K.H. Ahmad Dahlan sehingga berusaha
untuk menandingi sekolah pemerintahan Belanda dengan mengikuti contoh misi
Kristen dengan menyebarkan fasilitas dan mendesakkan pengalaman iman.[21] Sekolah Dasar Belada dengan al-Qur’an
didirikan dari keterkesanannya terhadap kerja para misionaris Kristen dan SD
Belanda dengan Alkitabnya.[22] Sekolah Muhammadiyah mempertahankan dimensi
Islam yang kuat, tetapi dilakukan dengan cara yang berbeda dengan
sekolah-sekolah Islam yang lebih awal dengan gaya pesantrennya yang kental.
Dengan contoh metode dan system pendidikan baru yang diberikannya.[23] K.H. Ahmad Dahlan juga ingin memodernisasi
sekolah keagamaan tradisional.[24] Untuk meningkatkan kualitas pendidikan
Islam, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Muallimin dan Muallimat,
Muballighin dan Muballighat. Dengan demikian diharpakan lahirlah kader-kader
Muslim sebagai bagian inti program pembaharuannya yang bisa menjadi ujung
tombak gerakan Muhammadiyah dan membantu menyampaikan misi-misi dan
melanjutkannya di masa depan. K.H. Ahmad Dahlan juga bekerja keras meningkatkan
moral dan posisi kaum perempuan dalam kerangka Islam sebagai instrument yang
efektif dan bermanfaat di dalam organisasinya karena perempuan merupakan unsur
penting berkat bantuan istri dan koleganya sehingga terbentuklah Aisyiah
. di tempat-tempat tertentu, dibukalah masjid-masjid khusus bagi kaum
perempuan, seseuatu yang jarang ditemukan di Negara-negara Islam lain bahkan
hingga saat ini. K.H. Ahmad Dahlan juga membentuk gerakan pramuka Muhammadiyah
yang diberi nama Hizbul Watan.
- Menerapkan Sistem Kooperatif dalam Bidang Pendidikan
Kita dapat melihat adanya kerjasama
yang harmonis antara pemerintahan Belanda dengan Muhammadiyah.[25] Keduanya sama-sama memperoleh keuntungan.
Pertama, dari sikap non oposisional. Kedua, mendukung program pembaharuan
keagamaan termasuk di dalam bidang pendidikan. Sikapnya yang akomodatif
dan kooperatif memberikan ketentuan mutlak untuk bertahan hidup di tengah iklim
yang sangat tidak ramah terhadap gerakan nasionalis pribumi dan disaat tidak
satupun gerakan yang sebanding dengannya dapat bertahan saat itu. Sehingga K.H.
Ahmad Dahlan dapat masuk lebih dalam pada lingkungan pendidikan kaum misionaris
yang diciptakan oleh pemerintah Belanda, yang saat itu lebih maju kedepan dari
pada sistem penddikan pribumi yang tradisional.[26] Dari uraian tersebut di atas, ada beberapa
catatan yang direntaskan oleh buya[27], antara lain:
- Membawa pembaruan dalam bentuk kelembagaan pendidikan,
yang semula seistem pesantren menjadi system sekolah.
- Memasukkan pelajaran umum kepada sekolah-sekolah
keagamaan atau madrasah.
- Mengadakan perubahan dalam metode pengajaran, dari yang
semula menggunakan metode weton dan sorogan menjadi lebih
bervariasi.
- Mengajarkan sikap hidup terbuka dan toleran dalam
pendidikan.
- Dengan Muhammadiyahnya buya berhasil mengembangkan
lembaga pendidikan yang beragam dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi
dan dari yang berbentuk sekolah agama hingga yang berbentuk sekolah umum.
- Berhasil memperkenalkan manajemen pendidikan modern ke
dalam system pendidikan yang dirancangkannya.
- Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah
Muhammadiyah merupakan gerakan umat
Islam yang lahir di Yogyakarta 18 Nopember 1912. Yang perkembangannya, terutama
sejak paruh kedua tahun 1920-an menunjukkan grafik meningkat. Disaat gerakan
umat Islam seangkatannya justru dilanda perpecahan dan perlahan menunjukkan
grafik penurunan, yaitu Sarekat Islam (SI). Yang saat itu SI pecah karena
infiltrasi komunis, sehingga muncul SI “Merah” yang jadi onderbow PKI (1920).
Dengan melihat perkembangan Muhammadiyah ini ada sebagian yang menyebutkan
sejarah Indonesia 1925-1945 adalah sejarah Muhammadiyah. Mungkin ini tidak
berlebihan. Pernyataan ini menyiratkan betapa besar peranan gerakan
Muhammadiyah atau kader-kader Muhammadiyah dalam dinamika sejarah umat dan
bangsa ini. Sejarah mencatat, KH Mansur penggerak MIAI (Majelis Islam A’la
Indonesia) dan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) zaman Jepang adalah pimpinan pusat
Muhammadiyah. Ki Bagus Hadikusumo, adalah pimpinan pusat Muhammadiyah yang
turut merumuskan Piagam Jakarta dan berperan dalam sidang-sidang persiapan
kemerdekaan. Mr.Kasman Singodimejo pun politisi yang berasal dari Muhammadiyah.
Bung Karno, Ir.Juanda, Sudirman, dll tokoh bangsa ini tidak sedikit merupakan
kader lulusan pendidikan Muhammadiyah. Dalam aspek sosial gerakan Muhammadiyah
pun banyak memberikan kontribusi pengembangan umat dan bangsa. Misalnya
Muhammadiyah memelopori pendirian Panti Asuhan dan Rumah Sakit. Bahkan Lembaga
Haji (Badan Penolong Haji) pun dirintis murid KH Ahmad Dahlan, Haji Sujak yang
mengusahakan usaha perkapalan untuk jemaah haji pada tahun 1921. Bidang
pendidikan itu lebih jelas lagi. Karena strategi gerakan Muhammadiyah diawali
dengan perintisan dan pengembangan kader lewat jalur pendidikan formal dan non
formal. Dilihat aspek pengembangan pemikiran keagamaan, Muhammadiyah pun berada
di garda depan. Di zaman Belanda Muhammadiyah berhasil upaya de-mistifikasi
(penghancuran berpikir mistik) dengan gerakan rasionalisasinya, tetap tetap
berpijak pada konsep Al-Qur’an dan As-Sunnah. Muhammadiyah pun mendobrak
ketaklidan yang membabi buta, berpikir feodal seperti pengkultusan individu
yang bisa mematikan ijtihad dan keterbukaan pikir. Muhammadiyah turut pula
mendobrak kefeodalan dengan mengubah kebiasaan kurang baik, dalam proses
pembelajaran al-Qur’an. Misalnya turut memelopori usaha penerjemahan Al-Qur’an,
yang di zaman Belanda itu diharamkan. Muhammadiyah pun yang memelopori ibadah
hari raya di lapangan pada tahun 1930-an, yang menggemparkan. Bahkan Belanda
khawatir akan bergeser pada aksi massa. Dengan pola pikir yang rasional tetapi
tetap mengedepankan jiwa kemanusiaan (kecerdasan emosional), Muhammadiyah
berhasil membawa umat sedikit demi sedikit untuk mempergunakan nalar rasional
dengan inspirasi ajaran Qur’an dan Sunah. Dari pola pemikiran rasional tsb
gerakan Muhammadiyah telah “membangunkan” kesadaran umat Islam yang sebelumnya
lebih terkesan tertinggal dan menjauhi kemajuan modern dalam pengembangan sains
dan teknologi. Sehingga perlahan Muhammadiyah bisa membawa umat dan bangsa
untuk mensejajarkan umat dan bangsa ini dengan umat dan bangsa lainnya. Bahkan
peranan Muhammadiyah sampai kini tetap menjadi harapan umat dan bangsa, selain
ormas Islam lainnya seperti NU, Persis, SI dan lain-lain. Terlebih dalam
menyikapi isu-isu nasionaol dan internasional selalu tampil di depan sebagai
pelopornya. Baik secara kelembagaan ataupun yang diperankan individu
kader-kadernya. Pengamat politik asing seperti Samuel P Huntington dalam
bukunya Benturan Peradaban menyebutkan Muhammadiyah sebagai “motor kebangkitan
Islam” di Indonesia. Analisis Huntington tersebut wajar. Sebab dalam rentang
usianya mendekati satu abad, Muhammadiyah telah, sedang dan akan terus
mengahasilkan kader-kader intelektual bagi umat dan bangsa. Bahkan perkembangan
berikutnya tampak Muhammadiyah sedang melebarkan sayapnya menjadi gerakan
internasional dengan sudah membuka cabang-cabangnya di luar negeri. Seperti di
Berlin, Cairo, Teheran, Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Australia, Amerika
dst. Dari latar belakang tersebut di atas, bila meminjam teori Hero (Tokoh)
nya Thomas Carlyle bahwa pemimpin besar (The Great Man) sebagai penggerak idea
akan terjadi perubahan sejarah. Bahwa idea dapat membangkitkan gerak sejarah
suatu bangsa, jika ada penggeraknya yaitu pemimpin besar. Seperti halnya ajaran
Islam, tidak akan berkembang tanpa kehadiran dan peranan pemimpin besarnya,
nabi Muhammad saw. Dengan memakai pendekatan teori sejarah ini, maka gerakan
Muhammadiyah tidak akan berkembang dan berpengaruh besar sampai kini jika tanpa
kehadiran ideolog dan penggerak awalnya KH Ahmad Dahlan. Karena itu mencermati
dan melakukan studi atas pemikiran KH Ahmad Dahlan menjadi penting dilakukan.
Ini akan berguna untuk memahami dinamika perkembangan Muhammadiyah khususnya,
dan dinamika umat Islam dan bangsa Indonesia. Muhammadiyah selalu terbuka dan
terus berkembang termasuk dalam hal keputusan tarjih.
- Ahmad Dahlan sebagai Pembaharu
Ada banyak hal yang menjadikan K.H.
Ahmad Dahlan sebagai pembaharu, di antaranya yaitu:
- Melakukan purifikasi ajaran Islam dari khurafat
tahayul dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah
umat Islam, dan mengajak umat Islam untuk keluar dari jarring pemikiran
teradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin Islam dalam rumusan
dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio.[28]
- Usaha dan jasanya mengubah dan membetulkan arah kiblat
yang tidak tepat menurut mestinya. Umumnya masjid-masjid dan
langgar-langgar di Yogyakarta menghadap Timur dan orang-orang shalat
mengahadap kea rah Barat lurus. Padahall kiblat yang seenarnya menuju
Ka’bah dari tanah Jawa haruslah iring kearah Utara + 24 derajat
dari sebelah Barat. Berdasarkan ilmu pengetahuan tentang ilmu falak itu, ornag
tidak boleh menghadap kiblat menuju Barat lurus, melainkan harus miring ke
Utara + 24 derajat. Oleh sebab itu, K.H. Ahmad Dahlan mengubah bangunan
pesantrennya sendiri supaya menuju kea rah kiblat yang betul. Perubahan
yang diadakan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu mendapat tantangan keras dari
pembesar-pembesar masjid dan kekuasaan kerajaan
- Berdasarkan perhitungan astronominya, K.H. Ahmad Dahlan
menyataka bahawa hari raya Idul Fitri yang bersamaan dengan hari ulang
tahun Sultan,, harus dirayakan sehari lebih awal dari yang diputuskan para
ulama “mapan”. Dan melaksanakan shalat Idul Fitri di lapangan. Sultan
menerima pendapat K.H. Ahmad Dahlan namun karena ini pula beliau
kehilangan lebih banyak lagi simpati dari kalangan ulama “mapan”.[29]
- Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam dengan popular,
bukan saja di pesantren, melainkan ia pergi ke tempat-tempat lain dan
mendatangi berbagai golongan. Bahkan dapat dikatakan bahwa K.H. Ahmad
Dahlan adalah bapak Muballig Islam di Jawa Tengah, sebagaimana syekh M.
Jamil Jambek sebagai bapak Muballigh di Sumatra Tengah.[30]
- Mendirikan perkumpulan Muhammadiyah yang tersebar di
seluruh Indonesia sampai sekarang.
- Sebuah Refleksi Dan Kritik Realita Sekolah-Sekolah
Muhammadiyah Saat Ini
Puluhan truk pasir sejumlah sak
semen dan beberapa kaleng cat tidak begitu bermakna apabila hanya di pajang di
toko atau disimpan di gudang. Makna itu menjadi bermakna di tangan tukan batu
atau arsitek, karena beragam bentuk arsitektur dapat dibangun. Ilustrasi
tersebut menjadi bermakna dalam konteks pendidikan. Melimpahnya materi tentang
aqidah, akhlaq, A-Qur’an Hadits atau hafalan sekian juz plus materiilmu umum
yang menjadi tidak bermakna manakala dijejalkan begitu saja ke peserta didik
dalam keadaan saling terpisah dan bersifat parsial. Apabila Muhammadiyah
benar-benar mau membangun sekolah atau universitas unggulan maka harus
merumuskan landasan filosofis pendidikan yang tepat sehingga dihadapan
pendidikan nasional pun posisinya tegas. Jika kita melihat sekolah Muhammadiyah
saat ini dari sisi kurikulumnya sama persis dengan sekolah/universitas negeri
ditambah materi al-Islam dan ke-Muhammadiyahan. Kalau melihat materi yang
begitu banyak, maka penambahan itu malah semakin membebani anak karenanya amat
jarang lembaga pendidikan melahirkan bibit-bibit unggul. Karena itu suudah
waktunya untuk kembali merumuskan materi yang terintegrasikan dengan
materi-materi umum seperti yang dicita-citakan oleh pendidinya buya Ahmad
Dahlan serta disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Buya melihat bahwa
mengadopsi system pendidikan model Barat adalah salah satu jalan pintas karena
buya melihat bahwa pendidikan merupakan kunci untuk melakukan berbagai perintah
agama. Mengingat system pendidikan koloni dianggap yang terbaik maka jalan yang
paling mudah adalah dengan mengadopsi sisterm tersebut lalu disempurnakan
dengan penambahan mata pelajaran agama. Namun, generasi kita sekarang lebih
disibukkan untuk mendirikan lembaga pendidikan hasil ijtihad, bukan menangkap
substansinya yaitu bagaimana mengintegrasikan atau mensintesakan ilmu umum dan
ilmu agama, karenanya cita-cita buya untuk melahirkan ulama-intelek dan intelek
ulama belum terpenuhi. Lain halnya jika kita membaca cerpen dari Navis (2000)
yang berjudul “Robohnya Surau Kami”, yang berisi kritikan terhadap kaum
agamawan (para penganut agama, terutama Islam) yang terlalu bersemangat untuk
meraih surga di akhirat tapi melupakan meraih “surga” di muka bumi ini melalui
kerja kemanusiaansampai akhirnya surai itu roboh. Dengan meminjam istilah itu
secara konotatif kemungkinan kritik itu diarahkan kepada warga Muhammadiyah
yang berlomba-lomba mendirikan sekolahan hanya bermodal ihlas tanpa
memperhatikan mutu/kualitas dan standar kelayakan pendidikan sehingga begitu
ada arus perubahan satu persatu sekolah Muhammadiyah rontok, kehabisan murid
seperti yang terjadi belakangan ini. Sedangkan secara denotative, memang untuk
menunjukkan bahwa bangunan gedung-gedung Muhammadiyah rata-rata sudah menua
sehingga benar-benar mau roboh. Begitulah realita yang terjadi dan untuk
menutup tulisan ini ada baiknya kita membaca kembali apa yang dituliskan Andrea
Hirata dalam novel best seller-nya yang sangat menyengat dunia
pendidikan kita yang berjudul Laskar Pelangi.. Realita pendidikan
Muhammadiyah di pelosok kota Belitung, yang harus berjuang keras melawan
ganasnya lingkungan dan kehidupan. Tapi dengan motivasi dan semangat yang
tinggi dari diri sendiri, teman serta pengelola pendidikan tersebut, mereka
berhasil mengatakan pada dunia “ini lah aku…anak-anak dari pelosok
Belitung…”. Guru yang super hebat dengan semua pengorbanannya
memperjuangkan eksistensi mereka pada dinas Pendidikan setemat, dan loyalitas
mereka untuk menerapkan cita-cita pembaruan buya Ahmad Dahlan dalam sekolah
mereka. Harusnya kita malu dengan segala kemewahan fasilitas dan sarana yang
kita miliki kalau kita masih keliru memahami maksud dari cita-cita pendidikan
buya Dahlan. Sederhananya, tidak banyak cingcong dan kemampuan merealisasikan
ide menjadi tindakan nyata, jauh lebih tinggi daripada intelektual muda
manapun. Ini barangkali dapat dipertimbangkan sebagai mata pelajaran baru di
sekolah-sekolah kita. University of Life adalah ungkapan yang paling pas
untuk situasi ini. Sekolah seharusnya tidak lagi mengajarkan hal-hal apa yang
harus kita pikirkan,tapi mengajarkan kita cara berfikir. Ada baiknya kita
memotivasi diri kita sebagai pondasi awal kita untuk menyajikan dunia
pendidikan yang terbaik sesuai dengan cita-cita buya, dengan meresapi apa yang
dikatakan Arai kecil: “bahwa orang seperti kita akan mati tanpa mimpi dan
semangat, karena itu jangan pernah berhenti bercita-cita, karena pabila itu
terjadi maka tragedy terbesar dalam hidup kita akan dimulai. Itulah kiranya
yang dingin direalisasikan oleh buya Ahmad Dahlan. III. KESIMPULAN
- Gerakan Muhammadiyah dikenal luas sebagai gerakan yang
sangat dipengaruhi oleh gagasan modern dan reformis pembaru Mesir Muhammad
Aabduh (1849-1905), yaitu dimaksudkan untuk memurnikan Islam di Indonesia
dari praktik-praktik khurafat tradisional yang tidak Islami. Dalam rangka
memajukan program pembaruannya, Muhammadiyah menyerukan agar kaum Muslim
kembali kepada Islam yang murni dan menafsirkan untur-unsur kebudayaan
Barat dalam kerangka ajaran Islam.
- Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan
tersebut, K.H. Ahmad Dahlan melakukan dua tindakan sekaligus;
memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan
mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum
bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena
umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak
dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide Beliau tentang
model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek
masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah
sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks
ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan
perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan.
- Setelah melihat sepak terjang K.H. Ahmad Dahlan dalam
gagasan dan praktek pendidikan Islam melalui Muhammadiyahnya, kita tahu
besar sekali jasa beliau dalam meletakkan pelajaran agama sebagai mata
pelajaran di sekolah-sekolah pemerintah sampai saat ini dari pendidikan
kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
- Gagasan K.H. Ahmad Dahlan selanjutnya dijadikan
inspirasi bagi penetapan bidang studi umum dan agama Islam yang wajib
diberikan di sekolah dasar dan diikuti oleh murid-murid yang beragama
Islam.
- Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan
berangkat dari keinginan untuk mewujudkan manusia yang mewakili
kepribadian yang integral dan pengetahuan yang seimbang. Sehingga
dipandang pentingnya memberikan pengetahuan agama bagi mereka yang berada
di sekolha-sekolah umum dan pengetahuan umum bagi mereka yang selama ini
belum pernah mendapatkannya.
- Tampak jelas dalam kurikulumnya bahwa kurikululum yang
ditetapkan DikNas, pendidikan Muhammadiyah juga mengkompromikan
pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Pada sekolah negeri pelajaran
agama merupakan satu bidang studi. Sedang di pendidikan Muhammadiyah
dibagi menjadi empat, yaitu akidah, al-Qur’an, tarikh dan akhlaq
- K.H. Ahmad Dahlan dapat dikatakan sebagai peletak dasar
pemikiran Muhammadiyah yang tidak bersikap apriori terhadap Barat. Ia
melihat kemajuan yag dibawa Barat dan ia bekeyakinan bahwa salah satu
jalan untuk mengankat umat Islam adalah dengan mendidik mereka dalam
lembaga pendidika yang mempunyai system yang tersendiri sebagai hasil
pemikirinannya. Lembaga-lembaga pendidikan inilah yang kemudian menjadi
sarana pelestarian hasil-hasil keputusan tarjih.
IV. PENUTUP Demikian pemaparan
makalah dari saya semoga bermanfaat. Semoga kita dapat melakukan dan memberikan
yang terbaik bagi dunia pendidikan kita dengan menghadapi semua kesulitan
sebagai bagian dari suatu tatanan pendidikan kita yang sempurna. Billahi fi
sabilil haq fastabiqul khairat. DAFTAR PUSTAKA Abdul Karim, Sejarah
Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007).
Abdul Munir Mulkhan, Prof.Dr.SU, Kisah dan Pesan Kiai Ahmad Dahlan
(Yogyakarta: Pustaka, 2005) Abuddin Nata, FIlsafat Pendidikan Islam (Edisi
Baru) (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005) Ahmad Mansur Suryanegara,
Prof.Ph.D, Filsafat Sejarah (Makalah Mata Kuliah), (Jurusan SPI Fak.Adab
IAIN SGD, Bandung, 2003) Ali Asyraf, Horison Baru Pendidikan Islam, terjemahan,
Sori Siregar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993). Alfian, Muhammadiyah The
Political Behavior of Allah SWT Muslim Modernist Organization Undr Dutch
Colonialism (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1085) Alwi Shihab, Membendung
Arus Resopn Gerakan Muhammdiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung:
Mizan, 1998) Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran
Islam (Jember, Mutiara Offset, 1985) Arbiyah Lubis, Pemikiran
Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)Clifford
Geertz, The Religion of Java (New York: The free Press of Glencoe, Inc.,
1961) Berita Resmi Muhammadiyah (BRM) No.23/April 1995 Delia Noer, Gerakan
Modern Islam di Indonesia 1900-1942I (Jakarta: LP3ES, 1995) Disertasi tidak
diterbitkan, Ahmad Tafsir, Konsep Pendidikan Formal dalam Muhammadiyah (Jakarta:
IAIN Syarif Hidayatullah, 1987) Achmad Jainuri, The Muhammadiyah Movement in
Twentieth Century Indonesia Allah SWT social Religius Study (Canada: Tesis
Mc. Gill University Montrealm 1992) Dja’far Siddik, Konsep Pendidikan Islam
Muhammadiyah Sistematisasi dan Interpretasi Berdasarkan Perspektif Ilmu
Pendidikan (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1997) Hamdani Ihsan dan Fuad
Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2001) Hamka, Kenang-kenangan
Hidup I (Jakarta: Gapura, 1951) http://immgunungjati.wordpress.com/2007/11/13/rekonstruksi-pemikiran-kh-ahmad-dahlan/
Download pada tanggal 9 April 2008-04-18 Karel A. Steenbrink, Pesantren
Madrasah Sekolah, (Jakarta: LP3ES, 1994) KRH. Hadjid, Pelajaran K.H.
Ahmad Dahlan 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat al-Qur’an (Yogyakarta:
LPI PPm, 2005). M. Margono Poesposuwarno, Gerakan Islam Muhammadiyah (Yogyakarta:
Persatuan Offet, 1995) M. Yusron Asrofie, K.H. Ahmad Dahlan Pemikiran dan
Kepemimpinannya (Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983) Mark R. Woodward, Islam
in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (Tucson:
The University of Arizona Press, 1989) Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa
Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: Lentera, 1999) MT. Arifin, Muhammadiyah:
Potret yan Berubah (Surakarta: Institut Gelanggang Mukti A. Ali, The
Muhammadiyah Movement: Allah SWT Bibliographical Introcution”, Tesis Master
pada Institute of Islamic Studies (Mc Gill Univercity, Montreal, 1957) Pedoman
Guru Muhammadiyah, seri M.P.P. No. % (Jakarta: PP Muhammadiyah Majlis P.P.K,
1997 Pemikiran Filsafat Sosial BUdaya dan Kependidikan, 1990)Profil Anggota
Muhammadiyah, LP UMY, Yogyakarta, 2000 Robert van Neil, From Netherlands East
Indies to Republic of Indonesia 1900-1945, dalam Harry Aveling (ed), The
Development of Indonsesian Society (New York: St. artin Press, 1980) Sri
Setyatiningsih dan Sutrisno Katoyo, Sejarah Pendidikan DIY (Yogyakarta:
Depdikbud, 1982) Syaifullah, Gerakan Politik Muhammadiyah Dalam Masyumi,
(Grafiti Pers, Jakarta, 1997) Solichin Salam, Muhammadijah dan Kebangunan
Islam di Indonesia, (NV Mega, Jakarta, 1965) Tim MPK PP Muhammadiyah, Sistem
Perkaderan Muhammadiyah (Yogyakarta: MPK PP Muhammadiyah, 2008) Sukrianta
& Abdul Munir Mulkhan, Perkembangan Pemikiran Muhammadiyah Dari Masa Ke
Masa, Dua Dimensi, Yogyakarta, 1985 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan
Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers,
2002). Suara Muhammadiyah, Edisi Sabtu, 9 Februari 2008 Syamsi Sumardjo, Pengetahuan
Muhammadiyah dengan Tokoh-tokohnya dalam Kebangunan Islam (Yogyakarta: P.B.
Muhammadyah, 1976) Syed Sajjad dan Syed Ali Ashraf, Crist in Muslim
Education (Jeddah: Hodder and Stonghton 1979) Toto Suharto, Filsafat
Pendidikan Islam, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006 Weinata Sairin, Gerakan
Pembaharuan Muhammadiyah (Jakarta: Pustaka SInar Harapan, 1995) Winarno
SUrakhmad, dkk, Reformasi Pendidikan Muhammadiyah Suatu Keniscayaan (Yogyakarta:
Pustaka Suara Muhammadiyah, 2003) Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan Reformer
Islam Indonesia (Jakarta: Djajamurni, 1963). —————–, K.H. Ahmad Dahlan
dan Amal Perjuangan (Jakarta: Depot Pengajaran Muhammadiyah, 1968)
[1] Terminology dunia Islam adalah suatu area
terbentang antara Maroko sampai ke Indonesia dan Negara-negara yang terletak di
sekitar Indonesia seperti Cina, Jepang dan Tibet, di mana Negara-negara
tersebut sebagian besar mempunyai aligiensi (kecenderungan terbesar) kultur
Budha, Syed Sajjad Husain and Syed Ali Ashraf, Crisis in Muslim Education, (Jeddah:
Hodder and Stoghton, 1979), h. 3. Bandingkan dengan Ali Asyraf, Horison Baru
Pendidikan Islam, terj. Sori Siregar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), p.
105-143. diceritakan bahwa, untuk memecahkan masalah-masalah dan meningkatkan
mutu pendidikan, secara resmi telah diadakan kongerensi pendidikan sebanyak
empat kali: pertama di Mekkah tahun 1977, kedua di Islamabad (Pakistan) tahun
1980, ketiga di Dhaka (India) tahun 1981 dan keempat di Jakarta tahun 1982. [2] Hamka, Kenang-kenangan Hidup (1) (Jakarta:
Gapura, 1979), p. 36-37. selanjutnya Hamka menulis, tentang kesenjangan antar
sekolah pada awal abad ke-20 sebagai berikut: Pada waktu itu ada dua macam
sekolah, satu namanya Sekolah Gubermen, yang terdiri dari IV kelas, dan yang
satu namanya Sekolah Desa yang teridiri dari III kelas. Di antara murid-murid
kedua sekolah itu, kerap sekali terjadi perkelahian karena saling membanggakan
sekolah masing-masing. Anak Sekolah Desa dipandang rendah, atau merasa dirinya
rendah, berhadapan dengan anak Sekolah Gubermen. Untuk anak-anak pegawai bangsa
Belanda didirikan Europeesche Lagere School, dengan kekecualian yang
amat sangat, artinya yang diterima di situ hanya anak-anak pegawai bangsa
Indonesia, misalnya anak Demang dan anak Jaksa. Anak-anak yang bersekolah di
sini merasa pula bahwa dirinya adalah tingkat yang di atas sekali, lebih tinggi
dari sekolah Gubermen itu dan jauh pula lebih tinggi dari anak Sekolah Desa. [3] Dalam Robert van Niel, The Emergence of
the Modern Indonesia Elite, terj. H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia
Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985), p. 21. 101. Politik etika bermula dari
pidato Ratu Wilhelmina pada tahun 1901 di Staten General, yang
menegaskan bahwa Belanda mempunyai “kewajiban moral” terhadap rakyat Indonesia.
Isi pidato tersebut antara lain: “Sebagai kekuatan Kristen pribumi di Hinda
Belanda berkewajiban untuk mengatur posisi hukum yang lebih baik bagi
orang-orang Kristen pribumi di Hindia BElanda, untuk memberikan dukungan lebih
kuat terhadap penyebaran Kristen dan memberikan penerangan kepada segenap
petugas bahwa Belanda mempunya kewajiban moral yang harus dipenuhi terhadap
penduduk wilayah itu”. Adapun pelaksanaan politik tersebut mulai tahun 1907,
berakhir tahun 1920. [4] Sri Setyiatiningsih dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah
Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta, (Yogyakarta: Depdikbud, 1982), h. 9.
[5] Aqib Suminto, Politik Islam, h. 15,
19. UUD Belanda ayat 119 tahun 1855, menyatakan bahwa pemerintah bersikap
netral terhadap agama. Pengertian netral dalam hal ini seharusnya tidak memihak
dan tidak campur tangan sekali atau bisa juga membantu kesemuanya secara
seimbang tanpa mencampurinya. Tetapi, ternyata penryataan netral terhadap agama
berbeda antara teori dan praktek. Sampai pada tahun-tahun terakhir berkuasanya,
kebijaksanaan pemerintahan Hindia Belanda terhadap agama lebih tepat dikatakan
campur tangan daripada netral. Meskipun campur tangan terhadap Islam dan
Kristen berbeda dalam jenis kualitas dan kuantitasnya. Dan keinginan untuk
tetap menjajah, betapapaun mengakibatkan pemeritah kolonia tidak memapu
memperlakukan agama pribadi sama dengan agaman sendiri, juga tidak mampu
memperlakukan pribadi yang beragama lain, sama dengan pribumi yag seagama
dengan. Senada juga dengan Delia Noer, Gerakan Modern Islam, h. 105.
bahwa sikap diskriminatif juga tampak pada perlakuan Belanda terhadap pihak
muslim dengan Cina. Pemerintah colonial dirasakan lebih menganakemaskan pihak
Cina. Pendirian Hollands Chinese School (HSC) dalam tahun 1099 oleh
pemerintah colonial Belanda dianggap oleh banyak orang Indonesia sebagai bukti
atas diskrimisasi tersebut. [6] Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan dan Amal
Perjuangannya, (Jakarta: Depot Pengajaran Muhammadiyah 1968), h. 29-30. [7] Lihat: Delia Noer, Gerakan Modern Islam di
Indonesia 1900-1942I (Jakarta: LP3ES, 1995). M. Yusron Asrofie, K.H.
Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta: Yogyakarta Offset,
1983). Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan Reformer Islam Indonesia (Jakarta:
Djajamurni, 1963). Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (Jakarta:
Bulan Bintang, 1993). Weinata Sairin, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah (Jakarta:
Pustaka SInar Harapan, 1995). M. Margono Poesposuwarno, Gerakan Islam
Muhammadiyah (Yogyakarta: Persatuan Offet, 1995). Alwi Shihab, Membendung
Arus Resopn Gerakan Muhammdiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung:
Mizan, 1998). Alfian, Muhammadiyah The Political Behavior of Allah SWT
Muslim Modernist Organization Undr Dutch Colonialism (Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 1085). Dja’far Siddik, Konsep Pendidikan Islam
Muhammadiyah Sistematisasi dan Interpretasi Berdasarkan Perspektif Ilmu
Pendidikan (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1997). Disertasi tidak
diterbitkan, Ahmad Tafsir, Konsep Pendidikan Formal dalam Muhammadiyah (Jakarta:
IAIN Syarif Hidayatullah, 1987). Achmad Jainuri, The Muhammadiyah Movement
in Twentieth Century Indonesia Allah SWT social Religius Study (Canada:
Tesis Mc. Gill University Montrealm 1992). [8] Delia Noer Gerakan Modern Islam di
Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1995), h. 48 [9] Musthafa Kamal Pasha, Muhammadiyah sebagai
Gerakan Islam untuk Angkatan Muda (Yogyakarta: Persatuan, 1975), h. 8-9 [10] Ahmad Khatib aslinya adalah orang
Bukittinggi, Sumatra Barat, yang pergi ke Mekkah pada 1876 untuk melanjutkan
sekolahnya. Dia dikenal sebagai orang yang sangat kritis terhadap berbagai
kebijakan pemerintah colonial Belanda dan bersikap tidak bersahabat kepada
Hurgronje ketika yang terakhir ini berada di Mekkah. Di antara murind-muridnya
adalah ulama terkenal K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng dan
belakangan pendiri organisasi kaum tradisionalis NU. Lihat: Muhammad Syamsu As,
Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: Lentera,
1999), h. 245 [11] Ada perbedaan pendapat di kalangan para
penulis biografi K.H. Ahmad Dahlan mengenai kepergiannya ke Mekkah. Menurut
Mukti Ali, K.H. Ahmad Dahlan pertama kali menuanaikan ibadah haji pada
1890 dan menetap di sana selama satu tahun, sedangkan dalam kunjungannya yang
kedua ia menetap selama dua tahun. Sumber lain menyebutkan dalam kunjungannya
yang kedua ini, ia menetap selama empat tahun. Sedang sumber lain lagi
menyebutkan ia menetap selama satu setengah tahun, bersama anaknya Siraj. [12] Syamsi Sumardjo, Pengetahuan Muhammadiyah
dengan Tokoh-tokohnya dalam Kebangunan Islam (Yogyakarta: P.B. Muhammadyah,
1976), h. 4. [13] Penggerak kebangkitan Islam di Jawa yang
pertama adalah perkumpulan Jam’iat Khair yang berdiri di Jakarta pada tahun 1905.
dari perkumpulan inilah bermunculan tokoh-tokoh baru Islam dan mendirikan
berbagai perkempulan seperti Muhammadiyah, al-Irsyad, dll. K.H. Ahmad Dahlan
adalah salah seorang anggotanya dengan nomor anggota 770. [14] Ketika bergabung, kepedulian utama K.H.
Ahmad Dahlan adalah untuk memasukkan dimensi keagamaan ke dalam organisasi yang
watak utamanya secular itu. Beliau ingin menyebarkan nilai-nilai keagamaan di
kalangan anggota organisasi ini, yang dikenal luas sebagai sangat intelek
tetapi komitmennya kepada Islam sangat kurang. Lihat: Deliar Noer, Gerakan
Modern Islam, h. 86. pembawaannya yang rasional dan tidak tradisional dalam
merumuskan ajaran-ajaran Islam tampaknya menjadi alasan di balik kemampuan
mempengaruhinya dan diterima para anggota BU dan beliau tetap merupakan anggota
aktif organisasi itu bahkan setelah Muhammadiyah lahir. [15] Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan
Pendidikan dan Pengajaran Islam, h.95-96 [16] Lihat, Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan
Pendidikan dan Pengajaran Islam (Jember, Mutiara Offset, 1985), h. 92.
Lihat juga Pedoman Guru Muhammadiyah, seri M.P.P. No. % (Jakarta: PP
Muhammadiyah Majlis P.P.K, 1997), h. 26. Tujuan pendidikan Muhammadiyah secara
umum yang lain berbunyi: “Terwujudnya manusia musli yang berakhlak mulia,
cakap, percaya pada diri sendiri berguna bagi masyarakat dan negara.
Selanjutnya tujuan tersebut disempurnakan lagi, sehingga berbunyi: (i)
terwujudnya manusia muslim yang berakhlak mulia cakap, percaya pada diri
sendiri dan berguna bagi masyarakat dan negara, beramal menuju terwujudnya
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, (ii) memajukan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dan ketrampilan untuk pembangunan masyarakat dan Negara RI yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tujuan ini tercantum dalam Kaidah Perguruan
Dasar dan Menengah masyarakat pasal 3 Persyarikatan Muhammadiyah Badan Hukum
yang menyelenggarakan Sekolah dan Terguruan Tinggi, pasca kepemimpinan K.H.
Ahmad Dahlan. [17] Ibid, h. 98-108 [18] Bahan pelajaran tersebut di samping pelajran
Qur’an dan hadis adalah kitab-kitab fiqh (mazhab Syafi’i), ilmu tasawuf
(al-Ghazali), Ilmu kalam (ulama-ulama Ahl Sunnah) ditambah dengan kitab Risalah
al-Tauhid (Muhammad Abduh), kitab Jalalain dan al-Manar. Sedangkan pengetahuan
umumnua meliputi: ilmu sejarah, berhitung, menggambar bahasa Melayu, bahasa
Belanda dan Inggris. Lihat: Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan
Pendidikan, h. 122-123. [19]K.H. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak
menganut fiqh mahzab Syafi’i, termasuk mengamalkan qunut dalam shalat subuh dan
shalat tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdiriya Majelis Tarjih pada masa
kepemimpinan Kyai Haji Mas Mansyur, terjadilah revisi –revisi setelah melakukan
kajian mendalam, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan
tidak dipraktikkannya do’a qunut di dalam shalat subuh dan jumlah rakaat shalat
tarawih yag sebelas rakat. “ Ini wujud keterbukaan Muhammadiyah yang tidak
fanatik”.Karena ini Muhammadiyah bukan Dahlaniyah. Dahulu ketika Ahmad
Dahlan muda bermukin di Makkah, sempat belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib
yang saat itu juga bersama Hasyim Asyari yang kemudian menjadi salah satu
pendiri Nadhatul Ulama. Karena Kyai Ahmad Khatib adalah seorang ulama bermahzab
Syafii, maka praktik ibadah Kyai Dahlan banyak yang mengikuti fiqh Mahzab
Syafii. Hanya saja, karena Kyai Dahlan mendapat tugas dari Syaikh Ahmad
Khatib untuk mempelajari Al Mannar, karya Rasyid Ridha, maka Kyai Dahlan
terpengaruh juga dengan pemikiran Rasyid Ridha yang menekankan tidak
bermahdzab. “Contohnya, bila ada satu masalah yang kuat dasarnya Mahzab Syafii
yang dianut Mahzab Syafii, kalau suatu masalah kuat Mahzab Hanafi, yang dianut
Mahzab Hanafi”. Hal inilah yang kemudian dianut Muhammadiyah, termasuk dalam
pengambilan Putusan Tarjih. Demikian dikatakan Dr. Yunahar Ilyas ditengah
Pengajian Mahasiswa, kamis (7/02/2008) di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Cik Di
Tiro Yogyakarta. Lihat: Suara Muhammadiyah , Edisi 9 Februari 2008. [20] Karel. K. Steenbrink, Pesantren,
Madrasah, Sekolah, h. 54-55 [21] K.H. Ahmad Dahlan sering mengajak
murid-muridnya mengunjungi gereja dan sekolah-sekolah misi untuk menunjukkan
dedikasi tinggi yang diberikan oleh para misionaris terhadap tugas-tugas baik
yang bersifat keagamaan maupun social. Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan
semangat juang para muridnya. Lihat juga Robert ban Neil, The
Emergence of the Modern Indonesian Elite, h. 85. [22] Alfian Muhammadiyah, h. 150. Lihat
juga Arifin, Muhammadiyah , h. 64-66 [23] Mengenai Pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan di
bidang Pendidikan, lihat Mukti Ali, The Muhamadiyah Movement, h. 53 [24] Kata “pesantren” secara harfiah berarti
tempat atau sekolah untuk santri. Kata santri pada mulanya berarti para siswa
yang belajar di sekolah-sekolah Islam. meskipun demikian, dalam masarakat Jawa,
kata ini memperoleh makna yang lebih luas. Kata ini dulu, dan hingga sekarang
masih digunakan untuk menunjuk kelompok kaum muslaim ortodoks yang taat
menjalankan perintah-perintah agama. Karena itu, pesantren bukanlah sebagaiman
ayang digambarkan Geertz sebagai sekolah elompok teligius yang kesalehannya
mencerminkan produk sintesis antara Islam dan agama Jawa para-Islam yang jauh
dariortodoksi Islam. pada kenyatannya, pesantren dibangun sebagai dan
perlahan-lahan berkembang menjadi jantung Islam ortodoks di wilayah pedesaan di
seluruh Indonseia, meskipun disebut dengan nama-nama yang berbeda. Pendidikan
yang diberikan disekolah-sekolah ini, setidak-tidaknya hingga berdirinya
Muhammadiyah , hanya terdiri dari ilmu agama. Pengajaran diberkan dengan cara
yang tidak formal, dengan cara para murid duduk mengelilingi guru mereka.
Muhammadiyah berdiri untuk memodernisasikan lembaga-lembaga ini, dengan
memasukkan pengajaran ilmu-ilmu sekuler da penerapan system pengajaran baru.
Bahkan dapat dikatakan, salah satu sumbangan khas Muhammadiyah dalam bidang
pendidikana adalah dengan mengadakan pendidikan Islam yang melampaui system
pendidikan pesantren yang tradisionalis ini. Lihat, Clifford Geertz, The
Religion of Java (New York: The free Press of Glencoe, Inc., 1961), h. 125.
Lihat juga Mark R. Woodward, Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in
the Sultanate of Yogyakarta (Tucson: The University of Arizona Press,
1989), h. 79-80. [25] Setelah dapat dipastikan, bahwa Muhammadiyah
bersika kooperatif. Pemerintahan HindiaBelanda memberikan penghargaan atas itu
semua, berupa perangko pos yang berlogokan Muhammadiyah dan K.H. Ahmad Dahlan.
Ini merupakan salah satu kunci keberhasilan K.H. Ahmad Dahlan dalam
merealisasikan program pembaharuan pendidikannya di Indonesia saat itu. [26] Ini menjadi pe-er besar bagi kita bersama
untuk menindaklanjuti yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan dengan melakukan studi
komparatif antara system pendidikan Kristen dan system pendidikan Islam
sehingga diharapkan akan tercipta sebuah paradigma baru bagi dunia pendidikan
Islam. [27] Lihat, Abudina Nata, Filsafat Pendidikan
Islam, h. 208 [28] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam,
h. 103-104 [29] A. Mukti Ali, The Muhammadiyah Movement,
h. 32. [30] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat
Pendidikan Islam, h. 276.

Komentar